Gunung menjadi pelampiasan

CINTA! GUNUNG?
Berawal dari putus cinta di akhir bulan januari,meski umur sudah menginjak 23 tahun wajar mungkin jika masih mengalami yang namanya galau.Waktu itu sakit hati? iya,kecewa? iya,banyak teman bertanya sebab putus kenapa,aku jawab dan bercerita begitu saja. Nah disinilah aku mulai mengadu dan bercerita ke sepupuku yang sebaya, dia bernama lengkap Mitha Sari Mustafa.
Setelah cerita ini-itu tentang kegalauan ku,dia malah mengajak aku naik gunung. “Aduh, orang lagi patah hati kok malah di ajakin naik gunung ,ya sudahlah apa salah nya aku ikut,mungkin ini bisa mengobati” pikir ku saat itu.Akhirnya dengan segala persiapan ala pemula,aku pergi ke pendakian pertama.
Gunung Cikuray Garut, “the first mountain i ever hike” begitulah lontaran bahasa inggris yang aku ucapkan pada teman teman di kampus . Dan disanalah aku mengerti tentang kekuasaan dan keagungan tuhan lewat pemandangan indah dari puncak cikuray, disini aku juga menemui teman teman baru yang mana mereka adalah teman sepupuku.
Di puncak ini aku mulai tersadar ada hal dan pengalaman yang lebih menarik dari pada sekedar berpacaran lalu menemui banyak masalah.

“Puncak dan shelter Gn.Cikuray” :
Bang irwadi,mbak yuli,mitha,rona,fendi,satrio,kang hendi,hamdi,akang (dari kiri ke kanan) Ndic,rizky dan fathi (bawah)

Waktu berselang dan aku sudah terbiasa dengan ketidakhadiran dia yg sudah 8 bulan kita bersama,entah walau hanya berpacaran seumur jagung, sepertinya aku merasa berkata dalam hati “inilah calon istri ku kelak”, ya aku sudah terlanjur terlalu sayang dan mencurahkan semua perhatian ku buat dirinya.
Tak lama bulan berjalan, aku pun ingin “memuncak” lagi, entah seperti keracunan dan nagih dalam tubuh ini.Gunung itu memiliki daya tarik tersendiri yang membuat para pendaki nya rindu untuk mengulang lagi-lagi dan lagi untuk summit.
Kali ini Gunung Burangrang yang aku pilih,selain letak geografisnya dekat dari rumah dan treknya tidak se extreme seperti gunung sebelumnya (Gn.cikuray) , kembali disini aku menemui teman baru yang bisa berbagi pengalaman,canda tawa,letih,beban,logistik,dan kebahagian lainnya.
Dari puncak Burangrang kita bisa lihat indahnya kota cimahi dan sekitarnya yang berselimut awan, juga situ lembang yang begitu indah.

"lembah gunung burangrang"

“Lembah Gn.Burangrang” :Mbak rini,bang irwadi,ganjar,mitha,fendi,mbak yuli (dari kiri kekanan)

Pada akhir bulan mei 2012 ,EXTEMAZ mengadakan acara LKG (Lomba Kebut Gunung) ,walau gunung bukan untuk di kebut hehe.., seperti biasa pemula ini antusias ingin mencicipi sensasi mendaki 3 gunung sekaligus dalam waktu 24 jam.Kami pun bergegas mendaftar dan menamai tim kami (fendi,ganjar,mitha) “tim pinus” dan mereka (hamdi,zaky,anisa) menamai tim mereka “tim power rangers” ,ya persyaratan sebelumnya mengharuskan didalam satu tim salah satunya adalah perempuan,yang akhirnya diubah panitia yang membolehkan semuanya laki laki, agar antusias dan peserta menjadi banyak. 30 tim lebih kami awali dengan ceremony pembukaan di perkemahan batu kuda cibiru.Setelah sambutan-sambutan dari panitia extemaz dan pengarahan akhirnya kita memulai start.
Manglayang-Bukit unggul-Tangkuban Perahu,beribu ribu kilometer kita akan lewati dengan berjalan kaki,pada akhirnya kita hanya mencapai 2 puncak setelah kurang lebih 23jam perjalanan,karena kita memilih beristirahat dan tertidur di puncak bukit unggul.Stamina yang begitu turun drastis setelah pendakian malam dari puncak manglayang ke puncak bukit unggul.
Di pos sebelum maribaya kita terpaksa di Cut oleh panitia,mereka bilang LKG sudah selesai dan kami pun di antar ke tangkuban perahu dengan mobil extemaz untuk mengikuti ceremony penutupan dan mengambil sertifikat acara ini.Dari awal memang kami tidak menargetkan untuk bisa melewati 3 gunung,bahkan untuk jadi pemenang pun tidak kami impikan walaupun kami juga bukan tim paling lelet haha..,di belakang kami kurang lebih masih ada 5 tim lagi tersisa yang bernasib sama seperti kami yang di jemput oleh mobil.Ya mungkin puncak (target) bukan segalanya itu hanyalah bonus ketika kita bisa melawan arogansi diri sendiri,biasanya arogansi datang ketika stamina yang drop dan letih akan tetapi hati dan ego ingin memaksakan untuk mencapai puncak (target) ,malah malah nanti bisa membahayakan nyawa kita sendiri.

"tim powerangers & tim pinus"

“2 tim bersama” : Bang zaky,fendi,mitha,ganjar,hamdi,anisa (dari kiri ke kanan)

Selang bulan demi bulan ,sedikit lagi hati ini tenang dari bayangan cinta lama yang tiada kabar.
Setelah lebaran idul fitri sepupuku Mitha hike bersama teman temannya ke semeru,pada waktu itu aku sempat di ajak,tetapi pekerjaan tidak bisa ditinggal dan juga budget yang masih tarik sana sini,ya beginilah nasib anak kuliahan tanggungan biaya sendiri yang kerjaan nya cuma partime di salah satu resto pizza di bandung.
Singkat cerita aku lihat hasil foto-foto perjalanan sepupuku tadi,”wah difoto saja sudah indah apa lagi aslinya?” begitu pertanyaanku dalam hati.Akhirnya tanggal gajianpun tiba ,aku pikir uang ini cukup untuk memulai trip menuju impian dan kebetulan waktu itu liburan semester yang masih panjang juga pekerjaan yang belum lagi dapat jadwal .

“Mahameru berikan damainya”

Sepotong lirik lagu dewa 19 yang masih terngiang di telinga ini seakan ingin secepatnya memulai pendakian.Tiket kereta sudah aku beli 2 hari sebelum pemberangkatan,walau dapat kereta kelas bisnis yang lebih mahal ketimbang kelas ekonomi yang sudah habis terjual. Sebelumnya aku ajak satu persatu teman yang aku kenal dari pendakian sebelumnya, ternyata mereka semua berhalangan, ada yang baru dari sana, skripsi, cidera dan dengan berbagai alasan lainnya.”Ah sudahlah tekad ini sudah bulat dan sudah tidak bersabar” cetusku dalam hati.
Akhirnya aku putuskan untuk berangkat sendirian ,di mulai dari menyempatkan membeli sedikit perbekalan untuk perjalanan dalam kereta di stasiun kiaracondong sore hari,aku pun siap berangkat.
Hari rabu 12 september pukul 15.30 wib perjalanan kereta Malabar pun meluncur menuju malang, stasiun demi stasiun aku lewati biasa saja,sesampai Jogjakarta aku bertemu teman teman seperjalanan dan berbagi cerita tentang profesi dan kegiatan mereka sehari hari, ada 2 tentara yang baru pulang dinas dari aceh,1 anak pesantren yang menuju Kediri,2 orang tua yang mengaku salah satu dari beliau adalah guru dan 2 bule asal german yang bertanya soal gunung bromo,serta seorang wanita yang sempat mencuri perhatian ku ,yang sempat aku pinta memfoto dirinya lewat kamera digital ku .Setelah ku tanya namanya ia bernama Rissa angreini, dia berdomisili di kota cimahi dipindah tugaskan dalam keperluan pekerjaannya ke kota Kediri. Di Stasiun Kediri pun Rissa dan teman seperjalan ku yang lain nya turun dengan salam perpisahan ,satu persatu mereka pun turun setelah mencapai tujuan nya.

"teman seperjalan"

Pada pukul 09:00 waktu setempat,stasiun kota baru malang pun sampai setelah 21 jam terombang ambing disepanjang perjalanan kereta,karena perjalan kereta Malabar yang sedikit terlambat yang seharus nya tiba pukul 07:00 pagi waktu malang.Terlintas bingung sejenak ,di tempat yang asing ini kemana lagi aku harus lanjutkan? Setelah membaca catatanku,tujuan berikutnya adalah pasar tumpang.Kemudian aku bergegas menemui angkot yang akan menuju kesana,supir angkot pun menyarankan untuk bareng bersama pendaki lain agar ongkos tidak berat.Nah disinilah aku mendapatkan teman baru dalam perjalanan menuju puncak mahameru nantinya.
Akhirnya aku meminta bergabung untuk pendakian bersama mereka, 4 orang berasal dari Mapala UNILA (Universitas Lampung ) dan 2 orang berasal dari Jakarta,kita sempat berunding untuk ongkos ke pasar tumpang.Di sana kami menyempatkan sarapan pagi dan berbelanja logistik untuk pendakian.Setelah mencari sana sini kendaraan untuk ke ranupane di pasar tumpang, akhirnya kita mendapatkan mobil truk yang notabene lebih murah ketimbang menyewa jeep.
Singkat cerita pada jam 10 pagi setelah tawar menawar dengan supir truk, kami meluncur ke kantor perizinan TNBTS (taman nasional bromo tengger semeru) sebelum langsung melanjutkan 3jam perjalanan untuk menuju pos pendakian ranupani.

Di perjalanan kami menikmati pemandangan yang begitu indah khas pegunungan malang.Bukit teletabies (biasa orang malang sebut) dan punggung gunung yang tidak kalah mempesona di sisi kiri kendaraan kita ,serta sisa sisa hutan yang terbakar minggu lalu.

“tim galau” :
fendi (bandung), rama’jerigen’ kapitan(lampung), hendra prawira ‘la (lampung), refdi ‘bangor’ (lampung) , haidaram “cokai”(lampung) ,kristin(Jakarta) ,emanuel (Jakarta) . (dari kiri ke kanan)

Kurang lebih pukul 14:00 ,kami pun sampai setelah beberapa menit melapor pendakian di pos ranupani ,kami bergegas bersiap siap serta tidak lupa berdoa dan mendokumentasikan sebelum memulai langkah pertama kami.
Memulai dengan jalan menanjak dan berdebu memaksa aku menggunakan masker yang sudah lebih dulu dibeli di ranupani, pos 1 kami lewati dengan sedikit istirahat dan canda gurau khas anak-anak lampung yang pecahkan tawa kita,sambil memotong motong sebatang tebu manis yang diberikan supir truk yang mengantarkan kami tadi.
Kita melanjutkan perjalanan dari pos 1 ke pos 2 dan waturejeng , langkah demi langkah pos demi pos akhirnya aku melihat keindahan ranu kumbolo dari kejauhan , seperti menyapa “ selamat datang, jaga dan nikmati keindahan ku” ,sambil terus berjalan menghampiri pos 4.
Sebelum melewati pos 4 disini aku bertemu dengan seekor burung yang terus mengikuti di depanku, seakan akan mengantarkan kedatangan ku .10 meter berjalan, burung itu terus membimbing dalam jalan setapak di sana, berasa aneh dan sedikit merinding aku berfikir “mungkin ini hal biasa yang dilakukan burung itu terhadap para pendaki yang datang”.
Tanpa berfikir panjang tentang burung itu,kami berdua (fendi&hendra) meneruskan perjalanan yang sedikit lagi menuju kamp perkemahan setelah tersusul oleh Emanuel dan Kristin.

“burung selamat datang”

17:30 waktu setempat kami pun sampai di lahan perkemahan di pinggiran ranu kumbolo, dengan sedikit menunggu teman teman yang tertinggal di belakang kami.
Malam menjelang,setelah tenda di dirikan kita lanjut memasak untuk santap makan malam sebelum tertidur lelap.

Ranu “15 Hektar” Kumbolo

Tak ada genangan air seindah ini
Dua belahan gunung bak tirai menyertaimu
Gemercik air dan hembusan angin menusuk
Dahaga menghilang dari basahmu

Gelap malam menyelimuti
Kilau bintang bintang bertebaran di ketinggian
Sunyi air melelapkan langkah langkah yang lelah
Kumbolo,jika Penciptamu mengijinkan, ku kan kembali…

“ranu kumbolo”

Jumat pagi ku nikmati sunrise di ranu (danau) ini,setelah sarapan dan sekedar cuci muka ,kami siap repacking untuk melanjutkan perjalanan ke puncak Mahameru. 2 orang teman kami yang berasal dari Jakarta ,Kristin dan Emanuel memutuskan untuk tidak ikut melanjutkan bersama kami karena mereka berencana untuk meneruskan traveling mereka ke Surabaya.Dengan senda gurau ,mereka akan menunggu hasil ceritanya saja dan mereka pun menyempatkan mengabadikan kami berlima dengan kamera.

Sisa kami berlima ,walau orang menganggap tabu soal pendaki yang berjumlah ganjil,kami merasa biasa saja menanggapinya.Jam 11 siang waktu malang kita bergegas memulai kembali perjalanan.
Langkah pertama kami disini sudah disuguhi “Tanjakan Cinta” yang posisinya tepat di belakang tenda kami sebelumnya. Tanjakan ini mempunyai mitos mitos yang sudah biasa terdengar dikalangan pendaki disini, katanya jika berjalan menanjak melewati tanjakan ini jangan menoleh kebelakang,jika menoleh kamu yang mempunyai pasangan (pacar) akan mengalami putus cinta atau bisa di bilang akan tidak langgeng. Aku malahan menanggapinya dengan santai, beberapa kali menoleh kebelakang melihat keindahan ranu kumbolo di tengah-tengah tanjakan ini, “toh aku kan masih single jadi aku bebas akan kutukan mitos itu hahaha” begitu candaan spontan dan tawa bersahutan bersama mereka setelah melepas lelah dan beristirahat di atas tanjakan cinta ini.

Dibalik jalan menanjak setelahnya ada padang rumput yang terhampar luas sudah menunggu yang tidak kalah indah nya dengan pemandangan sebelumnya. Oro – Oro Ombo, begitu nama padang rumput ini biasa di sebut.
Di perjalanan setapak padang rumput ini aku sering melamun dan menatap langkah langkah kecil ku.” Tuhan apakah ini secuil ke agungan mu? “ begitu pertanyaan yang tebesit dalam hati .Ternyata perjalanan di tanah ini begitu bermakna buat ku.

“Tanjakan cinta”& “Oro oro Ombo”

Setelah beberapa menit berjalan kami pun memasuki pos “Cemoro kandang”, disni ratusan cemara menjulang di tanah yang meninggi dengan sisa sisa terbakarnya akibat pemanasan global matahari yang mempengaruhi alam di sekitar sini.
Setapak demi setapak, napas yang terengah engah,keringat bercucuran,punggung yang menopang beban.Akhirnya kami lewati pos “Jambangan”, dengan ladang bunga edelweiss yang bertebaran dan Gunung Semeru begitu sempurna terlihat indah dengan bentuk yang khas nya disini.

“edelweiss”

Pos terakhir pendakian untuk perizinan dan asuransi,setelah pos ini jika terjadi hal yang tidak di inginkan di luar tanggung jawab pengelola TNBTS ,begitulah tulisan peringatan yang terpajang dipapan peringatan disana.
Pukul 14:15 pun kami tiba di pos kalimati. Kita menyempatkan mengisi perut di dalam shelter yang tersedia di pos kalimati .Jam 2 siang serasa jam 7 pagi di kota bandung ,matahari yang terik tidak begitu terasa di tubuh ini yang masih merasa menggigil kedinginan.
Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil air untuk persediaan pendakian.Aku ,Bangor dan Cokai meluncur ke mata air “sumber air mani”.Kurang lebih 1 jam perjalanan bolak balik dari pos kalimati ke mata air tersebut,cukup buat kami yang berangkat dari jam 4 sore,karena mitos ataupun fakta katanya jika kami mengambil air lebih dari jam 5 sore sering terjadi hal hal yang tidak di inginkan,seperti kesasar dan bahkan bertemu hewan buas yang memang air tersebut adalah sumber kehidupan mereka juga.
Setelah mendapatkan perbekalan air yang di anggap cukup,kami pun melanjutkan perjalanan ke pos arcopodo, yang planning dari awal kita akan mendirikan tenda disana. Kurang lebih jam 7 malam kami pun tiba setelah melewati “tanjakan maut” di bawah nya. Kami lalu bergegas mendirikan tenda dan memasak untuk memenuhi perut kita yang mulai keroncongan sebelum tertidur dan terbangun pada pukul 02:00 dini hari untuk melanjutkan summit attack.
Sayup sayup suara pendaki lain yang bersahutan di luar tenda membangunkan tidur kami. Waktu menunjukan 2 dini hari,kami bergegas bersiap untuk pendakian bersama melanjutkan summit.Keril dan barang barang lain yang tidak perlu sudah kami simpan dan tinggalkan kedalam tenda di pos arcopodo.
Pendakian malam kita lewati bersama,kurang lebih dari 30 pendaki lain nya juga melakukan summit attack.
Memulai pendakian dengan pijakan kaki di atas tanah yang berdebu sebelum melewati batas vegetasi,disini seharusnya kita melewati pos “cemoro tunggal” (cemara yang tinggal satu di batas vegetasi) tapi kita tidak menemukan nya,menurut seorang porter/guide yang di bawa oleh WNA asal belanda , cemara itu sudah tumbang karena faktor tanah yang berpasir dan rentan longsor, jelas nya.
Setapak demi setapak ,aku ayunkan kaki ini yang menulusuk pasir hingga sedalam atas mata kaki.
Pasir pasir gunung mulai masuk ke dalam sepatu ku, berulangkali aku berhenti sejenak hanya untuk beristirahat dan memandang ke bawah melihat sinar-sinar yang berasal dari headlamp pendaki lain nya. Hingga fajar menjelang ,dalam tengah pejalanan terdengar seorang pendaki diatas ku mengumandang kan gema adzan subuh yang begitu lirih hingga membuat hati ini berdebar dan merinding. Aku diam sejenak dan menyahut kumandangan adzan nya.

Setelah 8 jam perjalanan dari pos arcopodo akhirnya aku sampai di puncak mahameru yang begitu indah. Satu persatu teman ku sampai di puncak dan kami saling bersalaman dan sekedar tos untuk merayakan kemenangan di summit attack ini,begitu pula pendaki lain yang berhasil berdatangan dan mendokumentasikan lewat kamera yang di bawa nya.

Puncak Jawa

Disini dataran tanah di atas awan
Kurasakan kedamaian
Timur kompas menunjuk mentari yang malu malu menampakan diri dan mulai meninggi

Hembusan angin memaksa tubuh meringkik bersembunyi dalam balutan kain tebal
Hidung bercucuran
Tangan mengusap tiada henti

Disini mereka sebut sebut puncak para Dewa
Kau menjulang tinggi di tanah jawa
3676 meter di atas permukaan laut

Hembusan asap tebal dari perutmu yang kami nanti
Pasir berwarna abu abu bertebaran
Merah putih tertancap di bebatuan
Akan ku sampaikan keindahanmu….

Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi ,setelah puas memandangi dan mendokumentasikan keindahan Mahameru, kami harus segera turun sebelum semeru mengeluarkan gas beracun nya di siang hari. Begitu yang di alami Soe hok Gie yang wafat karena keracunan di sini. Sekilas ku lihat dan foto besi(nisan) dalam rangka memoriam beliau bersama sahabat nya Idham lubis yang bernasib sama di sana.

Kami pun melanjutkan perjalanan turun gunung , singkat nya kami berencana untuk langsung turun ke ranu pani dan langsung meluncur ke stasiun untuk mendapatkan tiket pulang. Tapi apa boleh buat, kami terlalu sore sampai di ranu kumbolo, dan kami pikir kecil kemungkinan untuk mendapatkan tiket kereta jika memang kami sampai pada malam hari di stasiun malang.
Tenda didirikan kembali di ranu kumbolo, seperti melepas lelah dan beban berkurang, juga keberhasilan kita mencapai puncak yang sebelum nya masih riskan, karena pendaki lain sebelum kami kemarin mengatakan adanya badai di puncak dan merekapun gagal summit. Tapi syukur buat kita untuk pertama kali datang kesini dan langsung summit di mahameru.
Kebahagiaan meliputi ranu kumbolo malam kali ini,kami bersenda gurau sambil bercerita antar personal,berbagi kegalauan dan bernyanyi seperti sudah tak ada lagi beban fikiran.

Esok hari nya kami bergegas meluncur turun gunung dari ranu kumbolo pada jam 11 siang, hampir setiap tapak di perjalanan pulang aku selalu bertanya “kapan kesini lagi?” dan “boleh kah aku bawa orang spesial nanti kesini,cuma sekedar memperlihatkan ranu kumbolo yang indah?” dan pertanyaan lain dalam benak terlamun.
Ranu pani sore hari ,di sana banyak orang yang akan memulai perjalan naik pada waktu kami turun ,kami berbagi senyum dan sapaan pada mereka.
Truk pun datang dan akhirnya mengantar kan kita ke pasar tumpang, di pasar tumpang kita lanjut ke terminal yang nantinya kan membawa kita ke Surabaya. Kenapa Surabaya? ya kita sudah terlalu malam dan tidak mungkin mendapatkan tiket kereta dari stasiun malang,belum lagi rumor tiket yang sudah habis terjual untuk pemberangkatan tanggal tersebut dari malang, jadi kita mencoba peruntungan dengan membeli tiket dari stasiun gubeng Surabaya.
Kami seperti terasing di kota pahlawan ini,menunggu loket yang buka pada jam 4 setelah subuh .kami tertidur dan bergembel ria di depan stasiun.

“stasiun gubeng Surabaya”

Loket pun di buka,segeralah aku mengantri dan mendapatkan tiket ekonomi ke bandung. Tapi teman teman ku belum mendapatkan tiket ke Jakarta karena habis terjual untuk tanggal tersebut,dan nantinya mereka lanjut ke merak dan menyebrang ke lampung.Akhirnya mereka berencana untuk membeli nya ke esokan harinya. mereka pun menyarankan aku pulang duluan.
Dengan rasa tidak enak pada mereka ku sampaikan salam perpisahan dan ucapan terima kasih yang sudah sudi mau menerima pemula ini bergabung bersama kalian. “jika tidak bersama kalian mungkin puncak mahameru pun tidak terwujud, hajar terus gunung berikut nya kawan! “.
Seperti biasa kereta berjalan panjang, hampir 15 jam dari Surabaya ke Bandung. Teriakan teriakan penjaja makanan dan minuman silih berganti dan mulai berubah ubah logat di setiap stasiun di daerah nya.
Jam 11 malam aku tiba di stasiun kiaracondong bandung, mencoba menelfon adikku untuk menjemput disini, tapi handphone mati total. Ku samperi counter yang masih buka disana untuk membeli pulsa sekalian ikut cas. Kaget ketika aku aktifkan Hp ini ada beberapa sms dari mantan ku yang menanyakan kabar. Dengan pikiran dan tubuh letih ini aku jawab sekena nya, sesampai dirumah aku berfikir dan termenung ,entah kenapa itu sangat menyakit kan. Mencampakan ,menghilang,lalu datang kembali di saat diri ini mulai sudah melupakan..

I ever try to be anything
Sometimes make me angry
Because you are perfect monster
Hard to forget ,hard to hated
I wish I could run into summit
For deleted you on my memory
But, it did’nt success
I dont know what I need to do now..
When you text me and said “hello are you fine?”
Your not even have the right ,to know my condition
It make me hurt…

Dulu aku lampiaskan gunung sebagai pelarian gundah ini, tapi kali ini gunung menjadi rumah dan hobiku.Biarkan cinta berjalan seiring gunung menjulang tinggi

Terimakasih Gunung Gunung .Terimakasih Tuhan….

Fendi Hadiansyah 23 oktober 2012

*Cerita ini di dedikasikan untuk seseorang yang sudah menjadi kenangan ͸sepupuku mitha. ͸teman seperjalanan dalam pendakian pertama sampai yang terakhir. ͸teman di kampus ake k34 ͸.supir truk. ͸masinis. ͸tukang angkot͸.tukang cuanki di cipendeuy͸.dan masih banyak lagi yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu. Terimakasih banyak

Iklan

One thought on “Gunung menjadi pelampiasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s